Ekoteologi Madrasah Berdampak: MAN 2 Kota Malang Turut Berpartisipasi dalam Penanaman Pohon di Lereng Gunung Welirang

MALANG – Nilai-nilai ekoteologi yang digaungkan Kementerian Agama RI direalisasikan dalam aksi nyata oleh MAN 2 Kota Malang. Sebanyak 15 peserta yang terdiri atas 5 pendamping guru dan 10 siswa turut serta dalam kegiatan penanaman pohon di Desa Pecalukan, Kecamatan Prigen, Pasuruan, pada 13-14 Januari 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Grojogan Sewu dalam rangkaian program ke-17 mereka.

Menurut Hidayat dari Yayasan Grojogan Sewu, lebih dari 1000 bibit pohon berbagai jenis berhasil ditanam dalam kegiatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat tersebut. Partisipasi MAN 2 Kota Malang menjadi bukti komitmen madrasah dalam merespons isu lingkungan.

Kepala MAN 2 Kota Malang, Dr. Samsudin, M.Pd., menyatakan bahwa agenda ini memiliki makna ganda. “Ini merupakan langkah untuk mendulang pahala jariyah, sebagaimana teladan Rasulullah SAW yang membantu sahabatnya, Salman al-Farisi, menanam 300 pohon kurma. Sekaligus, ini adalah aksi nyata mewujudkan nilai ekoteologi yang digaungkan Kementerian Agama RI,” ujarnya.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas sekaligus Penanggung Jawab Kegiatan, Miftachul Ula, BISS., M.Ag., menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan emas bagi lembaga. “Kami tidak hanya mengenalkan ekoteologi secara teoretis di kelas, tetapi juga mempraktikkannya langsung di tengah masyarakat. Ini adalah bentuk pengabdian dan edukasi simultan,” jelasnya.

Koordinator Riset MAN 2 Kota Malang yang juga bertindak sebagai koordinator pelaksana, M. Ronaldy Aji Saputra, M.Pd., melihat dampak positif bagi pengembangan akademik siswa. “Kegiatan lapangan seperti ini memberikan ‘brainstorming’ ide yang sangat berharga bagi siswa, khususnya untuk mengembangkan riset-riset aplikatif di bidang ekoteologi dan lingkungan,” paparnya.

Para pendamping kegiatan yang turun langsung juga menyampaikan antusiasme dan refleksi mendalam. Risky Suga Pratama, M.Pd. (Guru Matematika) menyoroti aspek kalkulatif dan keberlanjutan hidup. Sementara itu, Rintahani Johan Perdana, M.Pd. (Guru Sejarah) menekankan pentingnya melatih kepekaan pikiran dan rasa siswa terhadap isu lingkungan.

Faisal Yudha Saputra, S.E. (Pembina Pramuka) melihat kegiatan ini sebagai pelajaran tentang simbiosis manusia dan alam. Dari sudut pandang kekinian, Pratama Aprilianto, S.Pd. (Guru Informatika) menekankan pentingnya merealisasikan aksi nyata dan mendokumentasikannya melalui publikasi di media sosial untuk amplifikasi dampak positif.

Kegiatan dua hari tersebut tidak hanya diisi dengan penanaman pohon. Sebuah sarasehan menarik digelar dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, seperti perwakilan Yayasan Grojogan Sewu, Komunitas Gemaduta (Gerakan Masyarakat Peduli Hutan), Walhi Jatim, dan Perhutani. Isu strategis seperti ancaman pembangunan real estate di kawasan konservasi lereng Gunung Arjuno-Welirang menjadi bahan diskusi yang mengedukasi.

Pada puncak acara, dilakukan penyerahan simbolis bibit pohon. Kalei Nara, salah satu siswa MAN 2 Kota Malang, mendapat kehormatan mewakili peserta untuk menyerahkan bibit tersebut bersama anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, H. Sugiyanto, S.T.

Partisipasi aktif MAN 2 Kota Malang dalam gelaran Yayasan Grojogan Sewu ke-17 ini membuktikan bahwa pendidikan agama dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Ekoteologi tidak hanya menjadi wacana, tetapi telah diimplementasikan sebagai gerakan kolektif yang menyentuh langsung kelestarian bumi. (MU/rnd)

 

MAN 2 KOTA MALANG - JUARA PRIMA

Postingan Terkait