Kota Malang – MAN 2 Kota Malang menjadi tuan rumah Konferensi Olimpiade Bahasa Arab (OBA) ke-9 yang mempertemukan para pendamping dan pegiat Bahasa Arab dalam ruang berbagi pengetahuan, Sabtu (29/8). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB di Auditorium Lantai 4 Laboratorium Sains Terpadu tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kompetensi pendamping sekaligus membekali peserta menghadapi perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Kegiatan diawali dengan doa yang dipimpin Abdur Ghofur, M.Pd., kemudian dilanjutkan dengan rangkaian acara yang dipandu oleh MC Ikke Nilova El Hasany, S.Pd., serta moderator Faizul Ismani, M.Pd. Konferensi tersebut menghadirkan materi yang berkaitan dengan pemanfaatan AI dalam pembelajaran Bahasa Arab, sehingga peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga didorong untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan.
Ketua Olimpiade Bahasa Arab, Achmad Rifky Al Nabil menyampaikan bahwa konferensi tersebut menjadi kesempatan untuk memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang produktif sekaligus mempererat silaturahmi antarpeserta. Pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum berbagi, tetapi menjadi ruang untuk memperdalam materi dan meningkatkan kualitas pendampingan.
“Di siang ini kita santai sambil menuntut ilmu. Semoga silaturahmi ini akan tetap terjalin. Kami di pertemuan ini dipertemukan lagi dalam acara ini, semoga konferensi siang ini bermanfaat,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya peserta mendalami materi secara maksimal agar dapat membawa pengetahuan tersebut untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, forum konferensi diharapkan mampu menjadi salah satu langkah untuk mendorong pendamping agar terus berkembang dan menjadi lebih baik.
Kepala MAN 2 Kota Malang, Dr. H. Samsudin, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para pendamping untuk saling berbagi pengalaman, mencari strategi peningkatan prestasi, sekaligus memberikan apresiasi terhadap proses yang telah dilakukan.
“Ini kesempatan sharing-sharing untuk mencari prestasi dan dalam bentuk apresiasi. Hasilnya apa pun perlu kita arsipkan sebagai bagian dari proses,” tutur Samsudin.
Menurutnya, pendamping memiliki peran penting dalam mengawal proses perkembangan peserta didik. Prestasi tidak lahir secara instan, melainkan melalui tahapan yang membutuhkan pendampingan, proses, serta motivasi yang terus diberikan.
“Kita sebagai pendamping harus mendampingi. Proses itu langkah, dan motivasi terus kita berikan,” imbuhnya.
Di tengah perkembangan teknologi, Samsudin juga menekankan pentingnya penguasaan AI bagi para pendidik. Teknologi tersebut perlu dipahami dan dimanfaatkan sebagai bagian dari penguatan pembelajaran, tanpa menghilangkan substansi keterampilan berbahasa Arab yang menjadi ruh kegiatan pembelajaran di madrasah.
“AI juga harus kita kuasai. Keterampilan berbahasa Arab menjadi ruh kegiatan pembelajaran di madrasah bapak dan ibu masing-masing,” jelasnya.
Selain pemaparan materi mengenai AI, peserta juga memperoleh pengenalan melalui demo produk dari penerbit Erlangga. Kehadiran sesi tersebut turut memperkaya wawasan peserta mengenai berbagai sumber dan perangkat pendukung yang dapat dimanfaatkan dalam menunjang proses pembelajaran.
Konferensi OBA 9 diharapkan mampu meningkatkan kesiapan para pendamping Bahasa Arab dalam menghadapi perkembangan teknologi dan dinamika pendidikan. Penguasaan AI diharapkan dapat berjalan beriringan dengan penguatan keterampilan Bahasa Arab sehingga teknologi menjadi sarana untuk memperkaya pembelajaran, bukan menggantikan peran pendidik. Melalui forum tersebut, para peserta diharapkan membawa pulang pengetahuan, inspirasi, dan strategi baru untuk diterapkan di madrasah masing-masing.
Konferensi OBA 9 menjadi ruang pertemuan antara pengalaman, pengetahuan, dan teknologi dalam satu forum pembelajaran. Dari MAN 2 Kota Malang, semangat kolaborasi dan penguasaan teknologi diarahkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran Bahasa Arab di tengah perubahan zaman. Sebab, menghadapi era AI bukan sekadar tentang menguasai teknologi, tetapi tentang bagaimana pendidik mampu menjadikannya sebagai jembatan menuju pembelajaran yang semakin bermakna. (RI)



