Menembus Seleksi Ketat OPSI 2026: Satu Perak dan Satu Finalis dari MAN 2 Kota Malang

Waktu Publikasi :

Jakarta — Panggung Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta menjadi saksi kerja keras para peneliti muda dari berbagai daerah. Rangkaian kegiatan berlangsung pada 22–30 September 2026, dengan puncak acara berupa closing dan awarding pada Selasa, 29 September 2026. Sebanyak 60 murid tingkat SMP dan 65 murid tingkat SMA dari tiga bidang—Matematika, Sains, dan Teknologi (MST); Fisika, Terapan, dan Rekayasa (FTR); serta Ilmu Sosial dan Humaniora (ISH)—melewati tahapan penilaian yang ketat, mulai dari penilaian pameran booth, presentasi dan wawancara, hingga penyusunan RICh (Research Idea Challenge).

Seleksi tingkat SMA tahun ini tergolong sangat kompetitif. Dari total tim yang lolos ke babak final, bidang MST diikuti oleh 29 tim, ISH 20 tim, dan FTR 16 tim. Namun, medali yang diperebutkan sangat terbatas. Untuk bidang MST, hanya disediakan 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Bidang FTR menyediakan 1 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Adapun bidang ISH menyediakan 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Selain itu, terdapat 2 penghargaan khusus untuk setiap tingkat. Artinya, dari 29 tim di bidang MST, hanya 6 tim yang berhasil membawa pulang medali—sebuah persaingan yang tidak mudah.

Dari arena itulah MAN 2 Kota Malang kembali menorehkan cerita. Madrasah ini mengirimkan dua finalis dari bidang MST. Hasilnya, satu tim meraih medali perak dan satu tim menempatkan diri sebagai finalis. Capaian itu bukan sekadar angka, melainkan buah dari proses panjang pembinaan riset yang telah menjadi bagian dari budaya akademik madrasah.

Tim pertama terdiri atas Liyana Rofiatur Rahmah Pratama (XII-A) dan Firda Anisa Qonita (XII-K). Keduanya membawa penelitian berjudul “Targeted Folic Acid-Chitosan Mucoadhesive SNEDDS Ekstrak Ageratum conyzoides untuk Modulasi CD8+, HIF-1a, dan Caspase-3 pada Kanker Serviks: Perbandingan Rute Oral dan Intravaginal”. Penelitian ini menyatukan pendekatan bioteknologi, farmasi, dan onkologi dalam satu rangkaian kajian yang berani. Atas kerja itu, mereka meraih medali perak—salah satu dari hanya dua perak yang tersedia di bidang MST. Pembina mereka, Mas Adam Lukman Chaubah, S.Si., Ph.D.Med.Sc., menyampaikan rasa syukurnya. “Kami bersyukur atas hasil ini. Perak adalah buah dari ketekunan, diskusi panjang, dan keberanian anak-anak mengeksplorasi gagasan yang kompleks. Penelitian ini menyatukan bioteknologi, farmasi, dan onkologi dalam satu pendekatan yang utuh. Semoga menjadi pijakan bagi mereka untuk terus berkarya,” ujarnya.

Sementara itu, tim kedua diperkuat oleh Ngilma Tsuraya (XI-A) dan Aisha Zahra Ramadhani (XI-H). Mereka mengangkat judul “Potensi Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica) sebagai Green Neurotherapeutic Alzheimer”. Meskipun belum membawa pulang medali, keduanya berhasil menembus posisi finalis dari seleksi yang sangat ketat. Pembina mereka, Tsaniyah Nur Kholilah, S.Pd., M.Si. dan Wila Azaria, S.Si., menyatakan rasa bangga. “Kami bangga kepada Ngilma dan Aisha. Mereka berani mengangkat tema green neurotherapeutic yang masih jarang dieksplorasi. Menjadi finalis dari seleksi yang sangat ketat adalah prestasi tersendiri. Semoga ini menjadi langkah awal bagi riset-riset berikutnya,” tutur keduanya.

Kepala MAN 2 Kota Malang, Dr. Samsudin, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas konsistensi madrasah dalam menumbuhkembangkan potensi siswa di bidang riset. Menurutnya, capaian ini adalah hasil dari ekosistem pembinaan yang berkelanjutan. “Kami bersyukur dan bangga. Ini menunjukkan bahwa konsistensi MAN 2 Kota Malang dalam menumbuhkembangkan potensi siswa di bidang riset terus membuahkan hasil. Kami akan terus mendukung setiap ikhtiar anak-anak dan para pembina,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Alif Rifa’i, S.S. Ia bersyukur karena murid MAN 2 Kota Malang mampu menembus seleksi belasan ribu karya ilmiah dan kembali meraih medali. “Alhamdulillah, murid MAN 2 Kota Malang bisa menembus seleksi belasan ribu karya ilmiah dan dapat meraih medali lagi. Ini bukan hal yang mudah. Semoga menjadi motivasi bagi siswa lain untuk berani meneliti dan berkarya,” ujarnya.

Koordinator Pengembangan Prestasi Bidang Akademik, Dra. Wulaida Zuhriyana, menuturkan bahwa capaian tahun ini memang berbeda dari tahun sebelumnya. Meskipun demikian, semangat untuk terus menumbuhkembangkan potensi anak tidak boleh surut. “Walaupun berbeda dari tahun sebelumnya, kami tetap semangat agar selalu istikamah untuk menumbuhkembangkan potensi anak serta meraih medali. Ini adalah proses panjang yang perlu dijaga,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Riset MAN 2 Kota Malang, M. Ronaldi Adji Saputra, M.Pd., menilai seleksi OPSI 2026 jauh lebih ketat. Menurutnya, hal itu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kembali pembinaan riset di madrasah. “Tahun ini memang cukup selektif dan berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya jumlah perolehan medali yang disediakan masih banyak, sehingga masih bisa mengejar. Untuk tahun ini cukup terbatas, sehingga menjadi evaluasi kami untuk menumbuhkan kembali potensi siswa di bidang riset,” ujarnya.

Senada dengan itu, M. Yosi Pratikno, S.Mat., yang merupakan pembina sekaligus pendamping riset, menyatakan bahwa seleksi ketat harus menjadi cambuk untuk memperbaiki strategi pembinaan. “Seleksi yang ketat ini menjadi cambuk bagi kami. Pembinaan riset harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya menjelang kompetisi. Kami akan terus mendampingi anak-anak agar potensi mereka tumbuh optimal,” pungkasnya.

Dengan satu medali perak dan satu posisi finalis, MAN 2 Kota Malang membuktikan bahwa tradisi riset madrasah terus berjalan. Seleksi yang semakin ketat hanya 6 medali dari 29 tim di bidang MST tidak menyurutkan langkah, melainkan menjadi pijakan untuk berbenah. Prestasi ini bukan akhir, melainkan awal bagi lahirnya lebih banyak peneliti muda dari madrasah yang mampu bersaing di panggung nasional. (MRAS)

Menu

Aplikasi Madrasah

INFO SNMB

Brosur PMB 2026

INFO PMB