Kota Malang – Prestasi olimpiade tidak lahir secara instan. Di balik setiap medali, ada proses panjang berupa fondasi pengetahuan yang kuat, latihan yang konsisten, guru yang terus belajar, serta kolaborasi yang tidak pernah berhenti. Pesan inilah yang mengemuka dalam webinar “Kiat dan Strategi Pembelajaran Olimpiade Sukses dan Menyenangkan” yang digelar MGMP MTsN 1 Lembata, Sabtu (12/9).
Webinar yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan study tiru InsanPro. Para guru MTsN 1 Lembata mendapatkan pembekalan langsung dari Gatra Orbita Digitalis, M.Pd., yang hadir sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Gatra menekankan bahwa pembinaan olimpiade seharusnya tidak identik dengan pembelajaran yang berat dan menegangkan. Sebaliknya, guru perlu membangun pengalaman belajar yang membuat siswa tertantang, penasaran, dan menikmati proses menemukan solusi.
“Pembelajaran olimpiade itu bukan sekadar memberikan soal sebanyak-banyaknya kepada siswa. Yang lebih penting adalah membangun cara berpikirnya. Siswa harus memiliki fondasi yang kuat, mampu menghubungkan konsep, membaca pola dan data, kemudian berani menantang dirinya dengan persoalan yang lebih sulit,” jelas Gatra.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ia memperkenalkan metode 4L, yakni Learn, Link, Look, dan Level Up.
Tahap Learn menjadi fondasi awal dengan memastikan siswa memahami konsep dasar secara utuh. Selanjutnya, Link mengajak siswa menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya. Pada tahap Look, siswa dilatih untuk membaca pola dan data sehingga tidak sekadar menghafal rumus atau prosedur. Sementara Level Up menjadi tahap untuk mendorong siswa menghadapi tantangan melalui soal-soal dengan tingkat kesulitan yang semakin tinggi.
“Kalau fondasinya sudah kuat, siswa tidak mudah panik ketika berhadapan dengan soal yang berbeda. Mereka belajar melihat hubungan, menemukan pola, dan kemudian menaikkan level tantangannya. Di situlah kemampuan olimpiade mulai terbentuk,” ungkapnya.
Tidak hanya berbicara mengenai peserta didik, Gatra juga mengingatkan pentingnya peningkatan kapasitas guru. Menurutnya, guru pembina olimpiade harus menjadi pembelajar yang tidak berhenti mengembangkan diri.
Salah satu caranya adalah dengan memperkuat budaya literasi dan memperluas jejaring kolaborasi. Guru dapat belajar dari berbagai sumber, termasuk dari alumni yang pernah meraih prestasi dalam kompetisi atau olimpiade.
“Guru juga harus terus belajar. Perbanyak membaca, memperkaya literasi, dan jangan ragu bersinergi dengan alumni yang pernah meraih medali. Pengalaman mereka bisa menjadi sumber belajar yang sangat berharga untuk meningkatkan kemampuan pedagogi guru,” terangnya.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan olimpiade membutuhkan ekosistem yang mendukung. Guru, siswa, alumni, madrasah, dan berbagai pihak perlu bergerak dalam arah yang sama.
“Membangun program olimpiade yang sukses membutuhkan waktu, kesabaran, dan kolaborasi berbagai kalangan civitas akademika. Tidak ada hasil besar yang dibangun dalam waktu singkat. Yang diperlukan adalah konsistensi dan kemauan untuk terus memperbaiki proses,” tegasnya.
Kepala MTsN 1 Lembata, Sitti Rahim, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap webinar tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi dilanjutkan dengan program pembinaan yang lebih konkret.
Sitti Rahim berharap terjalin kerja sama lanjutan dengan tim InsanPro MAN 2 untuk mendukung pembinaan di MTsN 1 Lembata.
“Kami berharap kegiatan ini memberikan umpan balik yang nyata, khususnya melalui kerja sama pembinaan dari tim InsanPro MAN 2 ke MTsN 1 Lembata. Dengan demikian, apa yang kami dapatkan hari ini tidak berhenti sebagai wawasan, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan dalam program pembinaan siswa,” harapnya.
Webinar tersebut menjadi bagian dari ikhtiar MGMP MTsN 1 Lembata dalam memperkuat kompetensi guru sekaligus membangun pola pembelajaran yang lebih kreatif, menyenangkan, dan berorientasi pada prestasi.
Dengan semangat 4L-Learn, Link, Look, Level Up, MTsN 1 Lembata berupaya menyiapkan guru dan peserta didik untuk tidak sekadar mengikuti kompetisi, tetapi tumbuh menjadi pembelajar yang berani menghadapi tantangan dan terus meningkatkan kemampuan. (RI)



