Kota Malang – Siswa MAN 2 Kota Malang mengeksplorasi penerapan sains melalui proyek riset “Rekayasa Cahaya untuk Budidaya Microgreen” dalam rangkaian pengayaan pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Program Sekolah Unggul Garuda (SUGT), Jumat (16/10). Kegiatan ini menghadirkan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mendampingi siswa mengenal penelitian melalui persoalan nyata.
Sebanyak 102 siswa terpilih kelas XI dan XII mengikuti pengayaan yang berlangsung pukul 08.00–10.30 WIB. Melalui pendekatan Research-Based Learning (RBL), siswa didorong memahami proses penelitian, mulai dari mengidentifikasi masalah, merancang percobaan, melakukan pengamatan, hingga menarik kesimpulan berdasarkan data.
Salah satu fokus pengayaan adalah budidaya microgreen di ruang terbatas dengan pengaturan cahaya. Siswa diajak menyelidiki bagaimana perbedaan durasi penyinaran memengaruhi pertumbuhan dan bobot segar tanaman. Persoalan ini menjadi titik awal untuk menghubungkan konsep sains dengan kebutuhan budidaya yang dapat diterapkan di lingkungan sekitar.
Dalam rancangan mini riset tersebut, siswa diperkenalkan pada penggunaan lampu LED dan pengatur waktu (smart plug) untuk menciptakan sistem pencahayaan terkendali. Pengujian dirancang melalui tiga perlakuan, yakni 6 jam terang dan 18 jam gelap, 12 jam terang dan 12 jam gelap, serta 24 jam terang tanpa periode gelap. Warna lampu dipertahankan sama agar perbandingan berfokus pada durasi penyinaran.
Proyek ini mengintegrasikan empat unsur STEM. Aspek sains dipelajari melalui konsep fotosintesis dan pertumbuhan tanaman. Aspek teknologi diterapkan melalui penggunaan LED dan smart plug. Unsur rekayasa diwujudkan dalam perancangan sistem pencahayaan untuk budidaya, sedangkan matematika digunakan dalam pengukuran, penghitungan rata-rata, dan analisis variasi data.
Melalui proses tersebut, siswa tidak hanya diperkenalkan pada konsep teoretis, tetapi juga diajak memahami pentingnya variabel penelitian dan pengumpulan data yang terukur. Hasil pengamatan nantinya dapat disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan kesimpulan untuk menjelaskan hubungan antara perlakuan penyinaran dan pertumbuhan tanaman.
Kepala MAN 2 Kota Malang, Dr. H. Samsudin, M.Pd., menuturkan bahwa pembelajaran berbasis riset menjadi bagian penting dalam mendorong siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan secara ilmiah.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam penelitian sederhana, mengolah data, dan menyusun kesimpulan berdasarkan bukti. Pengalaman seperti ini penting untuk membangun rasa ingin tahu, kreativitas, dan kesiapan siswa menghadapi tantangan akademik di masa depan,” tuturnya.
Pengayaan ini menjadi bagian dari upaya MAN 2 Kota Malang dalam memperkuat pembelajaran STEM yang kontekstual dan berorientasi pada pemecahan masalah. Melalui pengalaman mengenal riset sejak di madrasah, siswa diharapkan semakin terampil mengembangkan gagasan, menguji dugaan secara sistematis, serta melihat ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk menjawab berbagai tantangan kehidupan. (RI)



