Kota Malang – Rangkaian Festival Literasi 2026 MAN 2 Kota Malang berlanjut dengan kegiatan pemilihan dan final Duta Literasi pada Senin (2/11) pukul 10.00 sd 12.00 WIB. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya madrasah dalam mengembangkan budaya literasi sekaligus memberikan ruang bagi murid untuk menunjukkan kemampuan, wawasan, dan kepeduliannya terhadap dunia literasi.
Melalui proses seleksi hingga babak final, para peserta ditantang untuk memperlihatkan pemahaman mengenai literasi, kemampuan berkomunikasi, serta gagasan kreatif dalam menggerakkan budaya membaca dan menulis di lingkungan madrasah. Pemilihan Duta Literasi juga menjadi bentuk apresiasi terhadap murid yang memiliki semangat dan komitmen dalam mengembangkan ekosistem literasi.
Kepala Perpustakaan MAN 2 Kota Malang, Budi Widodo, S.Pd., menyampaikan bahwa pemilihan Duta Literasi merupakan langkah strategis untuk membangun keterlibatan murid dalam menghidupkan budaya literasi. Menurutnya, duta literasi tidak sekadar menjadi representasi perpustakaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi penggerak dan teladan bagi teman sebaya.
“Duta Literasi diharapkan mampu menjadi wajah budaya literasi di lingkungan madrasah. Mereka tidak hanya dituntut memiliki kegemaran membaca, tetapi juga harus mampu mengajak dan menginspirasi teman-temannya untuk mengenal dunia literasi lebih dekat. Literasi bukan hanya tanggung jawab perpustakaan, melainkan tanggung jawab seluruh warga madrasah. Karena itu, kami berharap para finalis dapat menunjukkan komitmen dan kreativitas dalam mengembangkan budaya literasi,” jelasnya.
Salah satu juri, Naila Humairo, mengungkapkan bahwa penilaian dalam pemilihan Duta Literasi tidak hanya berorientasi pada kemampuan peserta dalam menjawab pertanyaan, tetapi juga pada wawasan, karakter, dan gagasan yang mereka tawarkan. Menurutnya, seorang duta literasi harus memiliki kemampuan untuk mengomunikasikan ide sekaligus merealisasikannya dalam tindakan nyata.
“Menjadi Duta Literasi bukan sekadar tentang gelar atau predikat yang diperoleh, tetapi tentang tanggung jawab yang menyertainya. Peserta perlu menunjukkan pemahaman bahwa literasi memiliki cakupan yang luas, mulai dari membaca, menulis, berpikir kritis, hingga kemampuan menyaring informasi. Saya melihat pentingnya keberanian peserta dalam menyampaikan gagasan dan menawarkan program yang relevan dengan kebutuhan lingkungan madrasah. Harapannya, siapa pun yang terpilih nantinya benar-benar mampu menjadi penggerak literasi, bukan hanya menyandang gelar Duta Literasi,” ungkapnya.
Pustakawan MAN 2 Kota Malang, Wahyu Enggar Wulandari, S.Si., turut mendukung pelaksanaan pemilihan Duta Literasi sebagai bagian dari penguatan budaya literasi di madrasah. Menurutnya, keberadaan Duta Literasi dapat menjadi jembatan antara perpustakaan dan murid dalam menghadirkan kegiatan literasi yang lebih menarik serta dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui peran tersebut, perpustakaan diharapkan semakin hidup sebagai ruang bertukar gagasan, mengembangkan kreativitas, dan menghasilkan karya.
MAN 2 Kota Malang berharap pemilihan Duta Literasi dapat melahirkan figur murid yang memiliki wawasan luas, kreativitas, serta kepedulian terhadap perkembangan literasi. Para duta terpilih diharapkan mampu menjadi teladan dalam membangun kebiasaan membaca dan menulis di kalangan teman sebaya. Selain itu, mereka diharapkan dapat menghadirkan berbagai inovasi dan program literasi yang menarik, kolaboratif, serta berkelanjutan. Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini diharapkan menjadi awal tumbuhnya generasi muda yang mampu menggerakkan perubahan melalui pengetahuan dan karya.
Pemilihan dan final Duta Literasi menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian Festival Literasi 2026 MAN 2 Kota Malang. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan melalui budaya literasi. Semangat para peserta diharapkan terus tumbuh menjadi gerakan nyata yang membawa pengaruh positif bagi lingkungan madrasah. Sebab, duta literasi sejati bukan hanya mereka yang pandai berbicara tentang buku, melainkan mereka yang mampu membuat orang lain jatuh cinta pada ilmu pengetahuan. (RI)



